Minggu, 30 Januari 2011

untittled pt. 3

     aku berjalan perlahan menuju mobil ferrari hitam kakakku. dia menunggu didalam mobil dengan tuxedo hitam dan rambut yang ia sisir rapi kearah belakang. huh, kadang dia memang terlihat terlalu dewasa. tapi cocok denganku yang memakai dress merah dengan wedge shoes kayu dengan pita berwarna merah diatasnya beserta tas hermes. yeah, terkesan sangat glamour. tapi ini semua hadiah ulang tahun dari Blair dan kurasa ini cukup nyaman dipakai. kami pun akhirnya berangkat ke sebuah pusat perbelanjaan ternama di london ini. diperjalanan aku melihat pemandangan yang tidak biasanya kutemukan di kota. sepertinya dia mengambil jalan lain yang mungkin lebih cepat untuk sampai ke 'London Lipsty'.

     Akhirnya kami sampai di depan pintu sebuah mall yang cukup besar. berwarna putih tulang dengan pilar-pilar berdiri menopang langit-langit depan mall ini. jendela berukuran hampir sama dengan pintu, memamerkan orang-orang dengan pakaian mewah berbelanja didalamnya. kami berdua menginjakkan kaki kami didalamnya. banyak orang lalu lalang dengan tatapan kurang ramah pada kami. terutama para wanita tua dengan baju super mewah melapisi tubuhnya. ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi sambil melirik kearahku. aku menatapnya dengan tatapan hati-hati. tapi ia berlalu dengan kepala masih sangat terangkat. huh orang sombong. tanpa kusadari ternyata Blair sudah berada hampir 20 meter dari tempatku berpijak. dengan hati-hati aku berjalan kearahnya. yeah, aku kurang terbiasa dengan baju dan wedge ini.biasanya aku menggunakan t-shirt dan short pants dengan sneakers dan tas punggung daripada seperti ini. ini tidak biasa.

"menurutmu, apa yang harus kita lihat sekarang?" bisik Blair.

tunggu, dia tidak merencanakan apa yang harus kami lakukan sedari kami berangkat tadi?! mengapa ia tidak bilang? aku bisa memikirkannya saat di perjalanan menuju kemari.

"Blair, seharusnya kau tahu apa yang harus kita lakukan" bisikku setengah berteriak.

"maaf Clair. aku tidak sempat memberitahumu. aku sedang bingung. sekali lagi maaf, Clair" Blair terdengar memohon. ia sudah sering melakukan ini.

"oke, mungkin ibu tidak butuh baju atau apapun. apa kau akan setuju denganku jika kita belikan dia sesuatu yang tidak terlalu glamor seperti biasanya? seperti buatan kita sendiri?"

"maksudmu? tetapi kita hanya memliki beberapa jam untuk membuatkan sesuatu. aku tidak yakin ini akan cukup" wajahnya berubah menjadi agak cemberut.

"Blair," aku menepuk bahunya yang tinggi "pasti bisa. aku yakin. ayo kita beli beberapa bahan yang memungkinkan disini"

"memangnya kau hendak membuat apa?"

"kau tidak perlu tahu sekarang" kataku dengan senyum nakal.

"baiklah" ia menarikku ke beberapa rak dan menuju beberapa lantai hingga kami mendapatkan apa yang kami butuhkan-meski dia tidak tahu apa yang akan kubuat-dan kami pergi keluar mall itu dengan barang-barang yang memuaskan.

"Clair, aku tidak yakin atas apa yang hendak kau buat. beberapa meter kain flanel, sutera, beserta lem dan hal yang tidak masuk akal?" tanya Blair dengan ekspresi yang memancing tawaku.

Blair, kau tidak akan mengerti para gadis. haha" aku tertawa sedikit melengking. oke, mungkin aku cukup membuatnya takut.

Blair mulai menyalakan mobilnya dan mengeluarkannya dari parkiran.


     Ditengah perjalanan, Blair tiba-tiba menurunkan kecepatan mobil kami.
"lihat" seru Blair.

aku mencari-cari apa yang tengah dilihat Blair ditengah perbukitan seperti ini.

"itu! lihat itu Clair!"

"aku tidak tahu apa yang kau lihat, Blair!"

Blair merebut tangan kananku dan menunjukkannya kearah suatu pondok. dan aku tidak melihat apapun disana.

"Blair, itu hanya sebuah pondok tidak ada yang salah" kataku sambil mengangkat bahu.

"tidak! tadi ada sesuatu yang diseret kedalamnya"

"lalu? itu bukan urusan kita kan?" aku berusaha meyakinkannya.

"tentu itu urusan kita" ia membanting setir mobil dan memarkirkannya disamping jalan.

"kita tidak... ouch!" Blair menarik pergelangan tanganku ke arah pondok itu.

"menunduk!" Blair mendorong kepalaku untuk bersembunyi dibalik semak dekat pondok itu.

"ouch, kau ini kenapa Blair?! tidak biasanya kau begini" aku menarik tanganku dari genggamannya yang kuat.

"Blair, kau benar-benar keterlaluan kali ini" aku menunjukkan bekas berwarna merah melingkar di pergelangan tanganku.

"maaf Clair, tapi serius aku melihat seseorang seperti Sam! lihat!" ia menunjuk ke arah sebuah benda berkilau terpantul sinar matahari.
aku berjalan dengan posisi merunduk mendekati benda itu.

"benda ini" gumamku.

Blair melambaikan tangannya isyarat memanggilku untuk cepat kembali ke semak-semak.
tanpa menghabiskan banyak waktu, aku segera mendekati nya.

"ugh! ini emas pemberianku untuk Sam! ada apa ini?!" aku tidak bisa mengontrol emosi ku.

"kreek" suara pintu dari pondok itu terdengar sangat jelas. terlihat seorang pria botak dan wanita berkacamata merah keluar dari pondok itu. mereka memperhatikan sekitar dan langsung berlari pergi.

"Blair! ayo kita tolong Sam!" aku hampir teriak. hatiku bergejolak ketakutan.

"tidak! kita tidak bisa buru-buru seperti itu. banyak hal yang harus dipertimbangkan"

"ayo lapor polisi!" sergahku.

"tidak! kali ini kita tidak bisa membiarkan polisi campur tangan dulu. kita harus cari tahu semuanya dan memperjelasnya. karena kali ini belum tepat untuk memanggil polisi"

"Blair! Sam disana!" aku hampir menangis saat mengatakan namanya. Sam.

"kita harus memeriksanya" aku beranjak. namun Blair menarikku lagi.

"tidak. kita akan kembali besok! nanti malam ayah dan ibu akan datang. aku tidak ingin jam-jam yang ia luangkan untuk kita sia-sia, Clair! mengertilah" Blair mengenggam tanganku erat. matanya berkaca-kaca.

"baiklah. tapi janji ya besok kita kembali. tapi kau yakin kita tidak akan terlambat?"

"kau bisa membunuhku, Clair" kata-kata itu terdengar sangat meyakinkan.

aku mengangguk setuju.

kami pun kembali ke rumah dengan hatiku yang sangat tidak terkontrol. sangat berantakan dan bingung.


aku mendengar Blair berkata sesuatu. tapi aku tidak mengindahkannya aku tidak menjawab, aku masih memikirkan hal tadi

"Clair?" Blair  menyadarkan aku dari lamunan tadi.

"eh? ya ada apa blair?" tanyaku dengan wajah tidak berdosa.

"ugh,ngomong-ngomong, apa yang akan kau buat?" tanya Blair sambil mengancingkan lengan bajunya di tengah selasar rumah kami.

"oh iya aku lupa akan hal itu. baiklah, aku akan membuatnya sekarang. Alena, kemari" aku memanggil salah seorang pelayan rumahku.

"iya nona?" ia bergegas berlari kearah kami.

"bantu aku mengerjakan sesuatu diatas. Baiklah Blair, kami akan menyiapkannya. kau siapkan saja yang lain"

"tentu saja, Clairy" dan Blair pun meninggalkan kami.

"Alena, tolong kau jahitkan sebuah sweater dengan wol ini dan..." aku menjelaskan semua yang telah kurencanakan. aku tidak bisa membuatnya dengan tanganku sekarang. aku tidak tahu mengapa. padahal dulu Sam sering mengajarkan aku cara menjahit. baiklah, kali ini tolong jangan ingatkan aku tentang Sam. aku sedang tidak ingin membahasnya. Lebih baik sekarang aku ke kamar dan melihat Alena membuat sebuah sweater beserta beberapa assesori.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar